Harga minyak WTI dan Brent kompak turun setelah Amerika Serikat (AS) mengeluarkan ancaman sanksi terberat untuk Iran.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540889/original/074569200_1774841000-6.jpg)
Seperti diketahui, lonjakan harga minyak tidak lepas dari kekhawatiran terhadap gangguan jalur distribusi energi, khususnya di Selat Hormuz. Tampak dalam foto, seorang pekerja mengumpulkan oli mesin saat bekerja di stasiun degassing di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak. (AP Photo/Leo Correa)
beritafinansial.com, Jakarta – Harga minyak turun pada Senin, 24 Agustus 2026 (Selasa pagi Jakarta). Koreksi harga minyak dunia terjadi setelah Amerika Serikat (AS) meluncurkan apa yang disebut sebagai kampanye sanksi terberat terhadap Iran.
Mengutip CNBC, Selasa (25/8/2026), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi acuan AS turun sekitar 2,5% menjadi US84,89perbarel.HargaminyakBrentyangmerupakanacuaninternasionalsusut2,5 92,06 per barel.
Sanksi Terberat AS terhadap Iran
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump pada Senin meluncurkan rencana sanksi global yang berfokus pada Iran. AS mengisyaratkan China tidak akan dikecualikan dari strategi itu. AS menjuluki strategi ini “Operasi Pengucilan Ekonomi” (Operation Economic Outcast).
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya menggambarkan langkah ini sebagai “D-Day ekonomi” di media sosial. Ia juga menyebutnya sebagai “serangan finansial terbesar yang pernah dikerahkan terhadap pihak lawan.”
“Mereka yang takut akan bahaya menentang Teheran sebaiknya tidak meremehkan konsekuensi dari menguji Washington,” kata Bessent di platform X. Ia merujuk pada ibu kota Iran.
Bessent mengatakan kepada CNBC pekan lalu bahwa Washington berniat “meruntuhkan” Republik Islam tersebut. AS akan menjatuhkan “sanksi terberat dalam sejarah.” Pemerintahan Trump juga mendesak sekutu AS dan negara-negara lain untuk memutus hubungan ekonomi dengan Teheran.
Pengumuman ini menyusul ancaman Presiden Donald Trump pekan lalu. Trump mengancam akan meluncurkan “operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun” yang ditujukan kepada Iran.
Trump juga memperingatkan adanya penalti finansial berat bagi negara-negara yang membantu Teheran menghindari sanksi. Ia menyebut upaya tersebut sebagai “Perang Ekonomi dan Isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.”
Harga Minyak WTI dan Brent Melonjak Pekan Lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540888/original/091837400_1774840995-5.jpg)
Situasi ini memicu lonjakan harga minyak di atas USD 100 per barel, serta mengancam stabilitas ekonomi dunia dan inflasi bahan bakar. Tampak dalam foto, para pekerja melakukan perawatan pipa di stasiun degasifikasi di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak. (AP Photo/Leo Correa)
Harga WTI dan Brent sempat melonjak pekan lalu setelah pengumuman tersebut. Para investor mungkin sedang melakukan aksi ambil untung pada sesi perdagangan Senin.
Iran telah menanggapi ancaman tersebut. Korps Garda Revolusi Islam menyatakan Teheran memiliki cara “untuk menangkal dampak buruk dari perang musuh.” Iran juga dapat “dengan mudah menjalin hubungan ekonomi dengan berbagai negara,” menurut laporan media pemerintah Iran.
Commonwealth Bank of Australia memperkirakan harga minyak tetap fluktuatif pada paruh kedua tahun ini. Pasar sedang menimbang apakah upaya Washington untuk mengisolasi Iran secara ekonomi akan berhasil. Pasar juga menimbang bagaimana respons Teheran nantinya.
Prediksi Harga Minyak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4477887/original/010773400_1687477107-Harga_Minyak_Dunia_Freepik.jpg)
Harga Minyak Dunia. Foto: Freepik/Artphoto_studio
“Belum jelas apakah kebijakan AS untuk mengisolasi Iran secara ekonomi akan terbukti efektif. Namun, jika langkah-langkah AS tersebut berhasil sesuai tujuan, kemampuan Iran untuk merespons melalui peningkatan kekerasan menjadi risiko yang perlu diperhitungkan oleh pasar energi,” tulis CBA dalam sebuah catatan pada Senin.
CBA juga memperkirakan harga minyak mentah Brent akan diperdagangkan di kisaran US70hinggaUS 100 per barel pada paruh kedua 2026.
Bank tersebut menyatakan harga bisa turun ke batas bawah kisaran itu jika arus minyak yang melewati Selat Hormuz pulih. Pemulihan hanya sedikit saja sudah cukup memicu ekspektasi terjadinya kelebihan pasokan di pasar global. CBA memperkirakan volume sebesar 50% hingga 60% dari tingkat sebelum perang sudah cukup untuk memicu hal tersebut.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
